Pernah gak sih kamu sebenarnya lagi sibuk, pekerjaan sendiri masih menumpuk, tapi ketika ada teman kantor minta bantuan, kamu malah susah bilang tidak? Padahal dalam hati sudah ingin menolak, badan sudah capek, dan pikiran juga lagi penuh. Namun, karena gak enakan, akhirnya kamu tetap bilang, “Iya, nanti saya bantu.”
Awalnya mungkin terasa biasa saja. Toh, cuma membantu teman, pikir kita. Namun, kalau kejadian seperti ini terus berulang, lama-lama pekerjaan sendiri malah terbengkalai. Kita sibuk menyelesaikan urusan orang lain, sementara tanggung jawab sendiri semakin menumpuk. Yang lebih bikin capek, orang lain mungkin menganggap kita memang selalu siap membantu, tanpa tahu bahwa sebenarnya kita juga sedang kewalahan.
Masalahnya, sifat gak enakan sering membuat kita lebih sibuk memikirkan perasaan orang lain daripada kondisi diri sendiri. Takut dianggap pelit, takut dibilang sombong, atau khawatir hubungan dengan teman kerja menjadi kurang baik. Akhirnya, kita memilih mengalah meskipun sebenarnya keberatan.
Padahal, berbuat baik itu penting, tetapi bukan berarti kita harus selalu mengorbankan waktu, tenaga, dan tanggung jawab sendiri. Ada kalanya kita perlu membantu, tetapi ada juga saatnya kita harus berani mengatakan tidak. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena kita juga punya batas kemampuan yang perlu dihargai.
Sebab, di dunia kerja, menjadi orang baik memang menyenangkan. Namun, jangan sampai kebaikan itu justru membuat kita keteteran sendiri.
Ketika Terlalu Banyak Mengalah, Akhirnya Diri Sendiri yang Lelah
Jujur saja, tulisan ini bukan sekadar hasil mengamati kehidupan orang lain. Saya sendiri sedang merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang terlalu gak enakan.
Posisi saya sebagai kepala sekolah membuat saya berhadapan dengan banyak urusan, banyak orang, dan tentu saja banyak tanggung jawab. Belum lagi ketika harus terlibat dalam berbagai bidang sosial. Ada urusan pekerjaan, ada kepentingan bersama, ada permintaan bantuan, ada kegiatan yang membutuhkan kehadiran, dan ada pula hal-hal yang sebenarnya di luar tanggung jawab utama saya.
Awalnya saya jalani dengan senang hati. Namanya juga hidup bermasyarakat dan bekerja bersama orang lain. Bukankah sudah seharusnya kita saling membantu? Apalagi kalau menyangkut kepentingan bersama, rasanya kok gak tega kalau harus menolak.
Kalau bisa membantu, ya dibantu. Kalau bisa hadir, ya diusahakan hadir. Kalau ada yang membutuhkan, sebisa mungkin diluangkan waktu. Begitulah cara saya selama ini menjalani banyak hal.
Namun, lama-lama saya mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Capeknya bukan cuma capek badan, tetapi juga capek pikiran. Ada banyak hal yang harus dipikirkan, banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan, dan banyak urusan yang seolah-olah selalu menunggu untuk ditangani.
Di satu sisi, saya ingin menjalankan amanah dengan baik. Di sisi lain, saya juga manusia biasa yang punya batas tenaga, waktu, dan kemampuan.
Kadang, ketika satu pekerjaan belum selesai, sudah datang urusan lain. Ketika ingin fokus pada tanggung jawab utama, ada kegiatan sosial yang juga membutuhkan perhatian. Ketika ingin mengambil waktu untuk beristirahat, muncul perasaan gak enakan kalau harus menolak permintaan orang lain.
Akhirnya, tanpa sadar, saya terlalu sibuk memenuhi harapan banyak orang sampai lupa bertanya kepada diri sendiri: Saya sendiri masih sanggup atau tidak, ya?
Menjadi Orang yang Bisa Diandalkan Itu Baik, tetapi Jangan Sampai Selalu Diandalkan
Ada satu hal yang perlahan saya sadari. Ketika kita dikenal sebagai orang yang mudah membantu, lama-lama orang lain bisa terbiasa meminta bantuan kepada kita.
Bukan berarti mereka berniat buruk. Bisa jadi karena selama ini kita memang selalu bersedia. Setiap ada kebutuhan, kita berusaha hadir. Setiap ada kesulitan, kita mencoba membantu. Akhirnya, nama kita menjadi salah satu orang pertama yang diingat ketika ada urusan yang perlu diselesaikan.
Masalahnya, kalau kita selalu mengiyakan setiap permintaan, orang lain tidak pernah benar-benar tahu batas kemampuan kita.
Mereka mungkin mengira kita masih punya banyak waktu. Mereka mungkin menganggap kita tidak keberatan. Padahal, di balik kata “siap” yang kita ucapkan, ada pekerjaan lain yang tertunda, waktu istirahat yang berkurang, bahkan pikiran yang semakin penuh.
Di sinilah kita perlu belajar membedakan antara menjadi orang yang bisa diandalkan dan menjadi orang yang selalu tersedia untuk semua orang.
Keduanya berbeda.
Orang yang bisa diandalkan tetap menjalankan tanggung jawabnya dengan baik, tetapi tahu kapan harus membantu dan kapan harus menyelesaikan prioritasnya sendiri. Sementara itu, orang yang selalu tersedia sering kali mengorbankan kebutuhannya sendiri karena merasa tidak tega menolak orang lain.
Kalau terus seperti ini, kita bisa kelelahan bukan karena tidak mampu bekerja, melainkan karena terlalu banyak pekerjaan dan urusan yang kita terima.
Jabatan Boleh Banyak, tetapi Tenaga Tetap Ada Batasnya
Dalam kehidupan kerja maupun sosial, kadang kita memegang beberapa peran sekaligus. Di satu tempat kita punya tanggung jawab utama, di tempat lain kita dipercaya untuk membantu kegiatan bersama. Ada amanah yang memang harus kita jalankan, ada pula kegiatan yang kita ikuti karena kepedulian.
Semua itu sebenarnya baik. Apalagi jika dilakukan untuk kepentingan bersama.
Namun, kita juga perlu realistis. Waktu kita tetap 24 jam sehari. Tenaga kita tidak bertambah hanya karena semakin banyak orang yang membutuhkan bantuan. Pikiran kita juga tidak selalu siap menampung semua persoalan dalam waktu bersamaan.
Sebagai kepala sekolah, saya punya tanggung jawab utama yang harus dijaga. Jika terlalu banyak energi habis untuk urusan lain, jangan sampai pekerjaan utama justru kehilangan perhatian.
Begitu pula dalam kehidupan sosial. Niat membantu orang lain jangan sampai membuat kita mengabaikan keluarga, kesehatan, waktu istirahat, dan tanggung jawab yang sudah lebih dahulu kita emban.
Sebab, amanah bukan hanya tentang seberapa banyak posisi yang kita duduki, tetapi juga tentang seberapa baik kita menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita.
Tidak semua hal harus kita tangani sendiri. Tidak semua undangan harus kita hadiri. Tidak semua permintaan harus kita penuhi. Dan tidak semua persoalan harus kita selesaikan.
Kadang, membagi tugas kepada orang lain justru menjadi bentuk tanggung jawab yang lebih baik daripada terus mengambil semuanya untuk diri sendiri.
Belajar Mengatakan Tidak Tanpa Harus Merasa Bersalah
Saya mulai memahami bahwa mengatakan tidak bukan berarti kita berubah menjadi orang yang tidak peduli. Menolak satu permintaan juga tidak otomatis membuat kita menjadi orang yang egois.
Ada kalanya kita harus berani berkata bahwa kita sedang punya tanggung jawab lain. Ada saatnya kita perlu menjelaskan bahwa kita belum bisa membantu. Dan ada waktunya kita harus menyerahkan urusan kepada orang lain yang memang lebih tepat untuk menanganinya.
Tentu saja, ini tidak selalu mudah, terutama bagi orang yang sudah terbiasa menjaga perasaan orang lain.
Namun, kita bisa belajar secara perlahan.
Misalnya, ketika ada permintaan bantuan sementara pekerjaan utama masih menumpuk, kita tidak harus langsung menjawab iya. Kita bisa mengatakan, “Maaf, sekarang saya masih menyelesaikan beberapa pekerjaan. Kalau nanti sudah memungkinkan, saya kabari, ya.”
Kalimat sederhana seperti itu menunjukkan bahwa kita tetap menghargai orang lain, tetapi juga menghargai waktu dan kemampuan diri sendiri. Kita juga bisa belajar memberikan batasan tanpa perlu menjelaskan terlalu panjang. Tidak semua penolakan harus disertai alasan yang berlembar-lembar. Selama disampaikan dengan sopan dan bertanggung jawab, kita berhak menentukan apa yang sanggup kita lakukan.
Yang perlu diingat, jangan sampai kita terus berkata iya hanya karena takut orang lain kecewa. Sebab, kekecewaan orang lain tidak selalu berarti kita telah melakukan kesalahan.
Beberapa Hal yang Bisa Kita Pelajari dari Pengalaman Ini
Kalau kamu termasuk orang yang sering merasa gak enakan, mungkin beberapa hal berikut bisa menjadi bahan renungan bersama.
1. Bedakan antara tanggung jawab dan keinginan menyenangkan semua orang.
Kerjakan apa yang memang menjadi kewajibanmu dengan sebaik-baiknya. Untuk urusan di luar tanggung jawab utama, pertimbangkan kemampuan dan waktu yang tersedia sebelum menyanggupi.
2. Jangan terburu-buru menjawab iya.
Ketika seseorang meminta bantuan, biasakan memberi jeda sebelum menjawab. Kamu bisa mengatakan, “Saya cek pekerjaan saya dulu, ya.” Dengan begitu, keputusan yang diambil bukan sekadar karena rasa gak enakan.
3. Belajar mengatakan tidak dengan sopan.
Kamu tidak harus bersikap keras untuk menetapkan batasan. Sampaikan keadaanmu dengan jujur, singkat, dan tetap menghormati orang yang meminta bantuan.
4. Berhenti merasa harus menyelesaikan semuanya sendiri.
Kalau ada pekerjaan yang bisa dibagi, bagilah. Kalau ada tanggung jawab yang bisa didelegasikan, percayakan kepada orang yang tepat. Bekerja bersama bukan berarti semua beban harus dipikul oleh satu orang.
5. Sisihkan waktu untuk diri sendiri dan keluarga.
Waktu istirahat bukan hadiah setelah semua urusan selesai. Dalam kenyataannya, urusan bisa datang terus-menerus. Karena itu, kita perlu sengaja menyediakan waktu untuk beristirahat, bersama keluarga, dan memulihkan tenaga.
6. Terima bahwa kita tidak bisa selalu membuat semua orang senang.
Sebanyak apa pun kita membantu, akan selalu ada hal yang belum bisa kita penuhi. Tidak apa-apa. Yang terpenting, kita sudah berusaha menjalankan tanggung jawab dengan baik dan tidak mengabaikan batas kemampuan diri sendiri.
Pada Akhirnya, Kita Juga Perlu Menjaga Diri Sendiri
Saya menulis ini bukan karena sudah berhasil mengatasi semuanya. Justru sebaliknya, saya sedang belajar memahami batas diri sendiri di tengah banyaknya tanggung jawab yang harus dijalani.
Menjadi kepala sekolah mengajarkan saya tentang amanah. Kehidupan sosial mengajarkan saya tentang kepedulian. Namun, pengalaman ini juga mengingatkan saya bahwa kepedulian kepada orang lain perlu berjalan beriringan dengan kepedulian kepada diri sendiri.
Kita boleh menjadi orang yang ringan tangan. Kita boleh senang membantu. Kita boleh menerima amanah dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Semua itu merupakan hal yang baik selama dijalankan dengan kesadaran dan kemampuan yang memadai.
Namun, jangan sampai karena terlalu ingin menjaga perasaan orang lain, kita justru terus-menerus mengabaikan perasaan dan kebutuhan diri sendiri.
Jangan menunggu sampai benar-benar kelelahan baru belajar membatasi diri. Jangan menunggu pekerjaan berantakan baru belajar menentukan prioritas. Dan jangan sampai kita terus mengorbankan waktu sendiri hanya demi memastikan semua orang merasa terbantu.
Sebab, pada akhirnya, kita tidak harus selalu menjadi orang yang menyelesaikan semuanya. Kita juga berhak menjadi manusia biasa yang sesekali beristirahat, berkata tidak, dan menyerahkan sebagian tanggung jawab kepada orang lain.
Baik itu perlu, peduli itu penting, dan membantu sesama itu mulia. Tetapi jangan lupa, diri kita sendiri juga perlu dijaga.
Karena kalau kita terus memaksakan diri sampai kehabisan tenaga, bagaimana kita bisa menjalankan amanah dengan baik?
Mungkin, mulai sekarang, kita perlu belajar satu hal sederhana: membantu orang lain semampunya, menjalankan tanggung jawab sebaik-baiknya, dan berhenti merasa bersalah ketika memang harus berkata, “Maaf, kali ini saya belum bisa.”
